Kawasan Blok M merupakan salah satu kawasan transit perkotaan dengan tingkat kompleksitas aktivitas yang tinggi, ditandai oleh intensitas pergerakan, keberagaman fungsi, serta perannya sebagai simpul transportasi dan pusat kegiatan ekonomi dan sosial. Dalam konteks keberlanjutan perkotaan, kawasan semacam ini tidak dapat dinilai hanya dari kinerja mobilitas, tetapi perlu dipahami sebagai satu kesatuan sistem kawasan atau neighborhood yang mencakup dimensi spasial, sosial, dan lingkungan secara terpadu. Namun, hingga kini, penilaian kawasan transit yang telah terbentuk masih sering dilakukan secara parsial dan belum menggunakan kerangka evaluasi kawasan yang operasional dan berbasis pembacaan spasial internal kawasan. Penelitian ini bertujuan menyusun kerangka penilaian kawasan berkelanjutan yang bersifat sistematis dan aplikatif, serta menerapkannya untuk membaca kondisi keberlanjutan Kawasan Blok M berdasarkan pembagian zona kawasan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui telaah literatur, studi dokumen, dan analisis kondisi eksisting kawasan. Kerangka penilaian disusun berdasarkan tiga aspek utama, yaitu aspek kawasan, infrastruktur, dan bangunan, dengan mengintegrasikan variabel fisik dan non-fisik ke dalam matriks penilaian yang diterapkan pada setiap zona kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja keberlanjutan Kawasan Blok M sangat dipengaruhi oleh kualitas konektivitas jalur pejalan kaki, keterpaduan ruang publik dan ruang hijau aktif, efisiensi pengelolaan sumber daya seperti energi dan air, serta kualitas tata kelola kawasan dan perilaku pengguna. Analisis berbasis zonasi memperlihatkan adanya perbedaan karakter, tingkat permasalahan, dan potensi pengembangan pada setiap bagian kawasan, yang menegaskan bahwa keberlanjutan Blok M terbentuk dari keterkaitan antara aspek kawasan, infrastruktur, dan bangunan sebagai satu sistem yang tidak terpisahkan. Kerangka penilaian yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai alat bantu untuk membaca kondisi kawasan secara lebih terstruktur sekaligus sebagai dasar perumusan arah penataan kawasan transit perkotaan yang lebih berkelanjutan.
Oleh :
M. Dedes Nur Gandarum W.