Perekonomian global saat ini dihadapkan pada tantangan ganda antara mengejar pertumbuhan ekonomi dan menjaga keberlanjutan sosial serta lingkungan. Dalam konteks tersebut, teknologi hijau (green technology) hadir sebagai salah satu solusi transformasional yang mampu menyeimbangkan efisiensi ekonomi dengan kelestarian lingkungan. Teknologi hijau meliputi inovasi dalam produksi bersih, energi terbarukan, dan ekonomi sirkular yang berpotensi memperluas kesempatan ekonomi sekaligus mengurangi tekanan ekologis. Namun, inovasi teknologi saja tidak cukup tanpa dukungan aktor sosial yang mampu menerjemahkan potensi ekonomi hijau menjadi nilai sosial dan kesejahteraan bagi masyarakat. Di sinilah muncul peran kewirausahaan sosial sebagai bentuk kewirausahaan yang menempatkan penciptaan nilai sosial di samping nilai ekonomi. Kewirausahaan sosial dapat memperkuat ketahanan komunitas melalui penciptaan lapangan kerja yang inklusif, pemberdayaan kelompok rentan, dan pengembangan solusi inovatif terhadap masalah sosial seperti kemiskinan dan pengangguran. Selain itu, inklusi keuangan menjadi instrumen penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap sistem keuangan formal. Ketersediaan layanan keuangan seperti pembiayaan mikro, tabungan, dan asuransi berbasis syariah membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk mengembangkan kapasitas dan daya saingnya. Kombinasi antara akses keuangan, inovasi hijau, dan kewirausahaan sosial diyakini dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif yaitu pertumbuhan yang tidak hanya meningkatkan output nasional, tetapi juga merata manfaatnya bagi seluruh lapisan masyarakat.
Oleh :
Yulindiani Iskandar